0

CINTA ?

Posted by ardianti lestari aris on 07.09
Berpuluh-puluh novel ku baca, lalu ku temukan novel ini. Di dalam novel ini diceritakan bahwa ada sepasang suami istri yang telah menjalani kehidupannya bersama selama 3 tahun lebih. Lalu kemudian, istrinya berselingkuh dengan laki-laki lain. Di novel itu diceritakan bahwa si suami  sebenarnya tahu, tapi tetap diam demi mempertahankan istrinya, lalu dilihatnya istrinya sering menangis diam-diam, apalagi setelah mereka melakukan hubungan suami istri. Sampai selang tidak lama sang suami sering mendapati istrinya menjadi pemurung, dengan mata bengkak tiap harinya, si suami akhirnya berbicara empat mata dengan istrinya. Tidak ada air mata, namun terasa sakit. Tidak ada teriakan, namun hatinya berteriak. Si suami berkata :

“Aku sudah tahu. Aku sangat mencintaimu. Karena itu, pergilah jemput kebahagiaan mu. Aku tahu sudah dari lama tapi tetap ku pertahankan kamu disisiku karena begitu besar cintaku padamu. Tapi melihatmu menangis diam-diam. Melihat air mata mu, dan mata mu membengkak. Hatiku sangat sakit. Perasaan cintaku lebih besar dari perasaan kepemilikan ku terhadapmu.”

Dan sang istri kembali, sang suami memaafkan tanpa syarat, malah berjanji untuk lebih membahagiakan istrinya. Pertanyaannya, adakah lelaki seperti itu? Jawabannya TIDAK ADA. Pertanyaan berikutnya, adakah perempuan seperti itu? Jawabannya ADA. Jika aku berada di posisi laki-laki itu  mungkin sudah ku bunuh perempuan itu. Tapi jika aku berada di posisi perempuan itu, dengan lelaki seperti sang suami, aku, aku, hahahahahaha, enthlah apa yang akan ku lakukan.

Lalu, adakah orang yang memaafkan begitu tulus atas nama cinta? Adakah cinta yang seperti itu? Mungkin tidak ada. Berapa banyak orang yang mencintaimu lalu ketika berbuat kesalahan mereka mencaci maki? Berapa banyak orang yang mencintaimu, mengatakan ingin menikahimu lalu kemudian dalam perjalanan itu tidak ada tindakan serius dari dirinya untuk itu. Berapa banyak kata cinta yang terucap padamu, kata memaafkan yang masih menyisahkan dendam di dalamnya walaupun sudah banyak perubahan baik pertanda penyesalan mu? Berapa banyak orang yang mampu menerima mu apa adanya? Sepaket dengan semua kekurangan mu? Berapa banyak orang yang mau membatasi dirinya dengan lelaki atau perempuan lain karena menghormati lelaki dan perempuan yang dicintainya?


Itulah ada cinta kepada Tuhan. Cinta yang tidak akan pernah mengecewakan mu. Cinta yang merangkulmu saat menangis, dan mendengarmu saat bersedih. Cinta yang memaafkan sebesar apapun kesalahan yang kamu lakukan selama engkau mau bertobat, cinta yang tidak pernah protes bahkan jika kamu melupakanNya, cinta yang mengabadikan cinta mu di dunia. 

Tuhan, Jatuh cintakan aku pada laki-laki yang juga mencintaiMU.
Dan Jatuh cintakan laki-laki yang mencintaiMU pada ku.
Agar dalam cinta kami nantinya, semua berlandaskan padaMU. 
 Aamiin ya Rabbal Al Aamiin.

0

Menghilanglah

Posted by ardianti lestari aris on 06.01
Aku berada di tengah-tengah proses menuju amnesia sebagian. Aku berada di tengah-tengah menghapus ingatan yang selalu bermunculan setiap hari, setiap jam, setiap hujan, setiap shalat. Aku berada di tengah-tengah perjuangan menghapus  satu nama dalam kehidupan ku, dan keluargaku.

Malam ini ayah menelponku, dan banyak nama mu disebut dalam percakapan kami. Setiap kali nama itu disebut, hanya teriakan tidak setuju yang ku haturkan pada ayahku “BERHENTILAH MEMINTA TOLONG PADA ORANG LAIN. LAKUKAN SENDIRI SAJA!!” Maafkan aku ayah, harus dengan teriakan dan kalimat seperti itu yang ku keluarkan untuk hanya menyampaikan maksud “Tolonglah ayah, berhentilah menyebut namanya.”. Maafkan aku ayah, sudah berteriak sekencang itu padamu. Hanya saja jika aku tidak berteriak maka kamu akan mendengarku menangis. Dan aku tahu, hal itu hanya akan membuatmu semakin khawatir.

Aku tidak apa-apa. Hanya tolong, tempatku pulang hanya keluarga. Jika masih disebut nama mu dalam keluargaku, maka tidak akan ada lagi tempatku pulang. Aku hanya tidak mau mengingatmu, mendengar namamu. Jika aku pergi, lalu aku rindu rumahku? Aku tidak akan bisa pulang jika tahu keluarga ku pun masih sering berhubungan dengan mu. Harus ku pastikan bahwa tidak ada lagi orang di dalam keluargaku yang menyebut nama mu. Tidak ayahku, tidak ibuku, tidak kakak ku, tidak adikku. Agar jikalau aku pergi jauh, aku punya tempat untuk pulang.

Aku ingin pastikan bahwa namamu tidak akan lagi disebut didalam keluarga ku, agar suatu hari jika aku siap berjalan beriringan dengan orang baru, tidak lagi ada ragu karena mendengar namamu. Tidak lagi bergejolak hatiku karena mendengar namamu. Karena yang di dalam hati ini butuh latihan. Latihan agar terbiasa tidak merasa. Latihan agar bahkan bukan Cuma otakku yang lupa, tapi hatiku pun ikut lupa.  Sudah cukup aku merasa bodoh dengan perasaan bodoh ini. Sudah cukup mempertahankan ini semua. Sudah cukup berusaha untuk hal yang sia-sia. Sekarang, waktunya pergi dan melupakan. Jika suatu hari rindu rumah, maka ada keluarga yang siap menerimaku dengan baik.


Hanya itu saja Tuhan, kumohon beri petunjuk.

0

C.H.A.N.G.E

Posted by ardianti lestari aris on 07.44
Ada beberapa hal yang membuat manusia berubah. Pernah berbuat kesalahan besar atau mungkin pernah menjadi kesalahan besar orang lain. Aku pernah merasakan keduanya. Dulu aku sangat suka bermain dengan mainan masak-masak dan sembunyi-sembunyi, senang memakai rok, senang berdandan, layaknya anak perempuan lainnya, dulu, sebelum aku menginjak lantai Sekolah Dasar. Lalu seseorang membuat kesalahan besar padaku, dan perubahan terjadi. Aku tidak suka lagi pakai rok, tidak suka berdandan, tidak suka tinggal dirumah, tidak suka lagi permainan masak-masak dan sembunyi-sembunyi. Aku lebih suka permainan anak laki-laki. Mengejar layangan, bermain sepeda sampai jatuh dan terluka, bermain karet yang diujungnya diikat paku bengkok, yang sempat mengenai mataku. Berkelahi dengan teman SD ku. Dan perubahan itu bertahan sampai SMA, bahkan sampai kuliah. Sampai aku mulai bekerja, lalu kembali berdandan dengan paksaan dari atasan. Itupun, hanya bedak dan lipbalm.

Sewaktu SMA sampai dua minggu yang lalu, akupun masih menyukai Hujan, suka bermain gitar, suka bernyanyi di karaoke, suka berkeliling kota Makassar hanya untuk melihat pemandangan, suka melihat lampu yang banyak dari ketinggian. Padahal sudah kulakukan kesalahan besar sebelum itu, namun aku masih suka. Sampai dua minggu lalu, perubahan terjadi lagi. Entah apa ini yang disebut menyerah atau apalah, aku tidak mengerti. Tapi sekarang, aku mulai tidak begitu suka dengan hujan. Hujan adalah konduktor penghantar doa yang baik. Tentu aku suka ketika beramai-ramai hujan membaahi bumi. Tapi, berada di bawah guyuran hujan, aku tidak lagi suka. Bisa membuatku basah, membuatku menjadi terlihat jelek karena kebasahan, membuatku sakit.

Begitupun bermain gitar. Gitar hanya akan membuat kulit ujung jariku mengelupas dan mengeras. Membuat nya mati rasa. Aku tidak suka. Bernyanyi di karaoke juga sudah ku tinggalkan. Menghabiskan uang dan tidak berguna. Hanya membuat waktuku terbuang sia-sia. Menyanyi, tentu saja aku suka. Tapi bernyanyi di karaoke, aku tidak suka. Hanya membuat kesenangan sementara, sementara yang dikorbankan lebih besar, uang dan waktu. Melihat pemandangan di tempat yang tinggi pun rasanya sudah malas. Takut, bagaimana kalau aku jatuh? Akan sakit. Akan Mati. Dan lagi, melihat lampu diketinggian memang indah, namun ketika turun ke bawah, yang kelihatan indah diatas, hanya palsu. Yang ada dibawah hanya kemacetan dan rumah-rumah penduduk yang tidak layak huni. Ini bukan berarti aku adalah bagian orang-orang penghuni Fly Over yang membuat tata kota jadi tidak menyenangkan. Dulu, dulu sekali aku mulai menyukai melihat lampu-lampu diketinggian, di atas bukit, tempat teraneh yang pertama kali kudatangi, walaupun aku tahu, aku bukan orang pertama yang diajak kesana. Tidak lagi aku suka berkeliling kota sekedar melihat pemandangan. Iya, pemborosan. Bensin dan waktu. Bukan berarti bahwa aku tidak suka travelling, aku suka sekali. Mungkin berkeliling dikota Makassar lah yang tidak ku suka. Jadi, ayo coba mengelilingi kota lain. J

Banyak yang berubah. Dariku, dari caraku memandang sesuatu, dari caraku berpikir, dari kesukaanku. Hanya satu yang belum berubah, dan aku harap Allah SWT segera merubahnya. Tepat setelah kota ini ku tinggalkan. Tepat setelah berhasil aku menemukan kesukaan baru. Karena tidak berubahnya satu itu benar-benar menyiksa. Benar-benar sulit dikendalikan. Aku hanya ingin berhenti berusaha, lalu mengikhlaskan semua. Berhenti menjadi bodoh karena satu itu. Itu saja.  


0

(RE) SOLUSI Juni 2014 : YOGYAKARTA (AAMIIN)

Posted by ardianti lestari aris on 07.56
Aku berencana keluar kota, target kota yang akan ku jadikan naungan sisa hidupku adalah Yogyakarta. Yah, sudah ku cari di internet banyak hal mengenai kota ini. Kampus UGM, tempat tinggal, transportasi, makanan, sampai lowongan kerja. Iya, aku berencana menetap di kota ini. Di kota Jogja yang kata temanku sangat nyaman.

Sepertinya peruntungan ku di Makassar tidak begitu baik. Mulai dari karir sampai masalah percintaan. Alasan pindah ke Jogja yah mungkin di kota ini peruntungan ku lebih baik. Pertama-tama Jogja, lalu berusaha mencari beasiswa keluar negeri, yah alasannya simple, aku ingin melihat dunia. Kalau tidak ku mulai sekarang, kapan lagi?

Hari ini sudah ku pastikan kalau aku akan pergi seorang diri, dan hidup seorang diri disana. Jujur saja, aku anak manja, aku sangat takut tersesat, jangan kan di kota orang, di kotaku sendiri saja, aku sangat takut tersesat. Mengingat nama jalan saja butuh waktu lama. Namun, tekadku bulat. Rasa takut apapun itu, aku tidak peduli. Hidup baru yang ingin ku mulai disana adalah hidup yang baik. Jadi apapun rintangannya, Allah SWT pasti menolongku. Jadi, tidak ada yang perlu ku takutkan. Harus ku pegang kepercayaan orang tua ku yang sudah dengan lapang dada melepasku pergi. Asal tahu saja, ayahku adalah orang yang paling tersiksa jika anaknya merantau jauh. Heheheh.

Bulan 6 akan ku mulai semuanya. Iya, bulan 6. Alasannya aku masih tidak enak membebani orang tua ku dengan biaya kuliah. Jadi sembari menikmati kota Makassar yang akan ku tinggalkan, beasiswa juga salah satu alasanku untuk menunda pendaftaran bulan Januari. Aku berharap bisa lulus salah satu beasiswa yang bisa membiayai kuliahku sampai selesai. Semoga aku beruntung. SEMANGAT!!

Selain beasiswa, aku juga ingin meyakinkan seseorang untuk ikut merantau bersamaku. Tapi tidak usah menunggu sampai bulan 6 sepertinya aku sudah tahu hasilnya. Jadi, sudahlah. Bersama perginya aku ke Jogja, aku juga pasti akan melupakan semuanya. PASTI!! Awalnya aku sebenarnya tidak ingin mengajaknya merantau bersama, karena ku pikir ini tidak mungkin. Maka ku coba jaga jarak dengan nya karena ku pikir, dengan jaga jarak tidak harus merasa sakit ketika harus pergi dan berpisah. Tapi ada harapan, ku pikir. Sekecil apapun harapan, patut dicoba kan? Tapi hasilnya, mungkin dia tidak seberani aku. Hahahahahaha. Ya sudahlah. Hei kamu, lihat saja. Suatu saat nanti kamu akan menyesal ketika melihat si perempuan pemberani ini berfoto di Menara Eifel dengan orang lain yang bersedia mengambil langkah berani bersamaku. Yang bersedia menyambut ide-ide gila yang ada dikepalaku. Yang bersedia ku ajak bersusah-susah dalam kehidupan dan bersedia untuk saling menopang kehidupan bersamaku. Iya, hanya kami berdua, muda dan gila. Yang sebenarnya sangat ingin ku lakukan bersamamu. Hahahahah (Aamiin ya Rabb).

Semoga bisa aku tinggal dan kuliah di Jogja Tahun ini. Semoga Jogja bersahabat dengan ku, bersahabat dengan rezeki ku. Ada banyak harapan di kota baru nanti. Jadi, sebelum menyambut harapan itu, masa lalu harus segera ditinggalkan. SEMANGAT!!! Mula-mula Jogja, lalu ke Negara lain. AAMIIN YA RABBAL AL AAMIIN!!!



0

Berbahagialah, Lelaki Yang Memberiku Tempat Duduk di Bus

Posted by ardianti lestari aris on 07.47
Hujan…
Hujan ini seakan persetujuan Allah atas doa untuk menjauhkan kita. Berat  sekali rasanya harus pergi. Tapi kamu yang menyuruhku pergi. Sekalipun berates-ratus kali aku menolak pergi. Atau aku katakan aku pergi, lalu kembali lagi, lalu pergi lagi, lalu kembali lagi. Tapi kali ini, kali ini adalah FINAL. Sudahlah, Tuhan saja tidak setuju.

Hujan….
Dibawah hujan kita tetapkan hati untuk bersama, sekali pun di tempat yang tidak begitu indah yang banyak dikhayalkan gadis-gadis beranjak remaja sepertiku dulu. Di depan rumah orang lain, di gerbang masuknya perumahan dimana rumahku berdiri kokoh dengan jarak kurang lebih 500 meter dari tempat kita saat itu. Dengan cara yang tidak kreatif, kita bersama.

Namun Hujan pula yang mengakhiri semuanya. Entah apa perasaan mu padaku, apakah masih mencintaiku atau tidak. Namun yang perlu kau tahu, bahwa aku benar-benar tidak ingin lagi menyakiti siapapun. SIAPAPUN. Aku pun ingin bahagia. Jadi suatu hari nanti, ketika aku benar-benar pergi jauh, sementara  ada harapan di dalam hatimu yang tidak ku ketahui untuk berjodoh denganku. Maka ku mohon, jangan salahkan aku jika akan ada hari dimana aku telah benar-benar pergi, benar-benar tidak bisa kembali lagi padamu. Karena itu kupertahankan mu tanpa menyerah. Karena itu ku perjuangkan mu tanpa kenal lelah. Karena aku pun tidak mau, membiarkan mu pergi dan tidak dapat menjangkaumu lagi dimasa depan. Bukan aku tidak percaya jodoh adalah Tuhan yang atur. Tapi lebih karena aku percaya bahwa tidaklah berubah takdir suatu kaum jika bukan mereka sendiri yang mengubahnya. Karena itu aku tidak menyerah, aku memilihmu sebagai jodohku dengan resiko yang sudah ku pikirkan mungkin akan terjadi. Namun, kamu menyuruhku pergi. Mengusirku, mengabaikan ku.

Dan lalu kuartikan, bahwa ini mungkin cara Tuhan untuk membuatku menyerah. Ini mungkin cara Tuhan untuk membuat kita tidak berjodoh. Karena Jodoh, adalah cinta kedua belah pihak, bukan salah satunya. Jadi, ku relakan. Aku akan pergi sesuai mau mu. Ke tempat yang jauh yang tidak akan bisa lagi kau jangkau, supaya tidak ada orang yang sering kau sebut “pengganggu”. Maka, berbahagialah. Aku mungkin bukan yang terbaik buatmu. Mungkin aku terlalu memaksakan kehendak, atau mungkin adalah buruk caraku untuk bersamamu. Tapi, asal kamu tahu wahai lelaki yang dengan ikhlas memberikan ku kursi di Bus, cinta ini yang akan menguatkan ku. Memberiku harapan. Semoga kelak kau temukan orang yang bisa membuatmu berusaha tanpa menyerah  seperti dulu kau berusaha untuk ku, dan seperti sekarang aku yang berusaha untukmu.

Teruntuk : Lelaki hebat yang telah ikhlas memberikan tempat duduknya padaku saat di bus, dan rela duduk di lantai bus bersama barang-barang. Aku Jatuh cinta pada mu saat itu, tepat setelah kau tersenyum dan mempersilahkan ku duduk.


Maafkan aku, untuk semuanya, maafkan aku setulusnya maaf. Kudoakan apapun yang terbaik dan membuatmu bahagia. 

Someday, when I sit down on a bus alone, I will always remember you and smile. :)
Source : Google


hoW MucH...??

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Copyright © 2009 ..My Blog, My Life.. All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.