0

When Teacher Meets Parents....

Posted by ardianti lestari aris on 09.06
Ternyata kelabilan tidak hanya melanda ABG dan sejenisnya, gue juga. Yang pasti gue bukan ABG dan sejenisnya, tapi labil ini rasanya susah banget keluar. Bingung kenapa gue bilang gue labil?? Iya, gue balik lagi, nulis dengan ke-gue-elo-an. Dammnn..!!!

Simple saja lah, kalau gue lagi happy, maka tulisan gue akan lebih absurd dari ketika gue galau. Hari ini sebenarnya tidak ada yang special, sama seperti  gue  menulis blog dan nggak ada satupun orang yang baca. #gangtungdiridipohontoge.
Tapi, bagaimana pun juga gue tetap ingin menulis kejadian hari ini, karena menurut penulis yang nggak boleh disebut namanya “Tidak ada hari yang biasa, semua tergantung bagaimana kamu menginterpretasikannya” katanya sambil pegang tongkat motif ular dan batuk-batuk dengan seluruh badan buluan dan berwarna hijau (ini penulis apa genderuwo). Yup, menurut gue sih benar banget. Walaupun gue rada-rada nggak ngerti kata terakhirnya.

Okelah, kita mulai aja, pertama-tama ubah scene di kepala anda dengan latar kantor yang lumayan sempit dengan tulisan brand ternama salah satu tempat belajar bahasa inggris, dimana ada beberapa orang yang sedang berlalu lalang entah mengurus apa, ada 2 anak yang memakai seragam sekolah yang sama, dan ada seorang cewek yang pegang bantal spongebob dengan ketawa aneh yang menggelegar sampai kedengaran 1 kampung (eh,,itu gue yah??) .

Seperti biasa, gue masih setia nangkring di kantor nungguin siswa gue yang mau extra class. Kebenaran, hari ini ada parents gathering dimana orang tua-orang tua siswa datang untuk mengambil raport anaknya. Satu jam pertama, gue hadapin orang tua pertama yang rasanya pasrah-pasrah aja dengan anaknya. Jam kedua, ada lagi, dan ini masih normal. Jam ketiga, datanglah bapak ini yang mengubah pandangan gue tentang parents gathering yang menyenangkan karena melihat orang tua-orang tua membayar yang artinya pundi-pundi harta gue bertambah menjadi horror. Sebut saja bapak ini Pak X.

Dengan muka serius, Pak X nungguin gue di front office. Awalnya feeling gue baik, karena anaknya Pak X kece dan pinter, jadi nggak ada masalah ya lah. Maka keluarlah gue dengan senandung ‘anak gembala’ gue.
“Selamat sore pak” sapa gue ramah
"Iya sore mbak." nggak ada senyum, nggak ada badai, jawabannya Pak X dingiiiin banget.
Gue senyum lagi "Ini raportnya X pak, seperti bapak liat ini, bla bla bla.....bla bla bla...."  Gue menjelaskan dengan baik apa arti setiap angka yang tertera di raport.
"Hm....begini mbak.." dan hal horor ini pun terjadi. "X itu anaknya agak kurang termotivasi untuk belajar. Kalo boleh saya minta tolong, bisa X dikasi sentuhan fisik mbak, biar dia semangat dan merasa terdorong untuk belajar."
Gue Shock....

Batman Shock...
Patrick dan Spongebob Shock ...
Diego dan dora menikah...
Ehh... apa-apaaan ini?? kalian sepupuan, masa menikah..?? BATALKAN PERNIKAHAN INI!! *matilampu.

oke, kembali ke topik, otak gue kan belum diupgrade yah. 'sentuhan fisik ' yang dimaksud pak X sama sekali gue nggak ngerti..
"begini mbak, tolong kalo selesai pelajaran atau misalnya sebelum masuk kelas, tolong X dirangkul lah. terus dibisikin kata-kata yang buat dia semangat" lanjut pak X.
Pertama, gue bukan eyang subur yang tiba-tiba bisikin kata motivasi terus tuh anak langsung terhipnotis untuk melakukan apa yang gue suruh. Kalo gue bisa kayak gitu, sekalian aja tuh anak gue suru bawa mobil, beliin rumah, atau bawain duit 10 juta tiap hari buat gue. Kedua, Rangkul?? yang ada kejadiannya bakalan kayak gini.
"Hai X,,, How are you?? How's life??" sambil gue rangkul pundaknya.
Si X......"Heeelppp.... ma'am dian is going crazy"

"oh, iya pak. setiap di kelas juga saya akrab kok sama anak-anak." jelasku dambil berdoa semoga pak X ini cepat  pulang. dan ternyata tuhan belum mengabulkan doa gue.
"Dulu, anak saya itu peringkat 30 di sekolah, setelah saya memberitahu gurunya untuk memberikan sentuhan fisik, sekarang dia sudah peringkat 2 umum." lanjut tuh pak X curhat.
Gue diam, mencoba mengkorelasikan antara sentuhan fisik dan peringkat 2 umum. Rumus archimedes, ini bukan matematika, Simple Past tense, nggak ada hubungannya, Tuhan, saya butuh psikiater.

Akhirnya untuk mempercepat percakapan, gue hanya mengangguk dan meng-iya kan setiap permintaan pak X yang pastinya nggak akan gue lakukan sesuai permintaannya, namun dengan cara yang berbeda.

Sebagai guru, tanggung jawab gue adalah mendidik, bukan joget gangnam style di depan siswa gue. Atau mengajarkan bagaimana ber-harlem shake yang baik. Bukan, karena joget-joget tersebut sudah ketinggalan jaman. Tugasku adalah, bagaimana siswa didik gue mampu bersaing di dunia internasional, menjadi salah satu pelopor joget yang mendunia dan akan kami beri nama wormy dance tralala trilili. *Televisi mendarat di jidat gue.

Guru, yah, sepertinya memelajari remaja bertingkah laku membuat gue merasa lebih muda. Namun melihat mereka bertingkah laku yang tidak semestinya kadang malah membuat gue merasa tua banget. Tapi, apapun itu, menjadi bagian positif dari kehidupan orang lain, sekalipun nantinya akan terlupakan ketika mereka dewasa, adalah hal yang menyenangkan. HIDUP Wormy Dance Tralala Trilili.....!!!

0 Comments

Posting Komentar

hoW MucH...??

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Copyright © 2009 ..My Blog, My Life.. All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.