0

Tuhan Akan Mendekati mu Dengan Berlari, Jika Kamu Mendekati-Nya dengan Berjalan

Posted by ardianti lestari aris on 16.04
        Hari ini 31 desember 2013, hari terakhir di bulan Desember. Pagi-pagi sekali aku sudah keluar dari rumah berkat pertengkaran sudut pandang dengan ayah ibuku semalam. Tidak betah rasanya aku tinggal dirumah dengan pemikiran-pemikiran yang tidak sesuai denganku dan dipaksakan. Namun, ini bukan berarti bahwa aku membenci ayah ibu ku. Demi Allah SWT, rasa sayangku ke mereka melebihi kepada diriku sendiri. Namun, membahas itu di sini rasanya tidak etis. Aku sedang duduk di dalam sebuah restaurant yang buka untuk breakfast, sambil melihat hujan deras yang barusaja aku telusuri, yang menusuk kulit tanganku yang tengah letih mengendarai motor sambil terkantuk-kantuk. Tidak ada yang menemaniku selain Chicken Muffin dan secangkir kopi susu hangat. Aku sendirian, dan menurutku saat ini sendirian memang sangat membantu. Kembali anganku melambung ke belakang, ke 31 desember tahun lalu, malapetaka yang sebenarnya juga menjadi penolong ku, penolong nya. Menjadikan kami intropeksi dan mendewasakan kami berdua. Sekarang, aku merasa lebih baik. 31 Desemberku juga tidak akan menjadi malapetaka lagi. In Shaa Allah 31 Desember ku kali ini akan ku kenang seumur hidupku. Juga akan menjadi cerita bagi anak-anak ku kelak. Bahwa ibu mereka adalah wanita yang  sangat jauh dari kesempurnaan, wanita yang biasa-biasa saja dengan karunia Allah SWT yang melimpah padanya.

        Lalu apa yang special dari 31 desember ku tahun ini? Iya, ini adalah hari pertama ku berhijab. Dan In Shaa Allah tidak akan ku lepaskan lagi. Mengikuti mode? Pastinya tidak. Ikut-ikutan karena teman yang lain berhijab? Sangat tidak. Hijab ini bukan keputusan yang cepat yang aku ambil. Berbulan-bulan, bahkan sejak tahun kemarin dan kemarin aku mulai merasakan bahwa Allah SWT memanggilku untuk taat. Dimulai dari saat kuliah, ketika ada tarbiyah di mesjid dan aku merasa tidak enak untuk ikut karena tidak berhijab. Padahal, aku ingin sekali bergabung dan mendengar ajaran agama tersebut. Lalu, aku belajar sendiri. Ku buka internet yang menjadi penghubung pengetahuan dan tempat sharing ilmu. Ku baca artikel-artikel terkait perempuan dan hijab. Lalu, ku buka social media, ku baca semua status dan tweet mengenai hijab dan perempuan. Ku lihat kehidupan tenang orang-orang yang mengenakan hijab. Ku lihat kemampuanku, ku lihat diriku dicermin. Sampai puncaknya adalah seseorang menyadarkanku untuk kembali membaca Al-Quran dengan artinya. Ku lakukan, dan di Surah An-Nisa, aku putuskan, bahwa sudahlah, aku berhenti menjadi orang munafik yang selalu mengatakan tidak siap untuk berhijab dan menunda ketaatan ku pada Allah SWT. Allah SWT sudah begitu baik padaku, pada kehidupanku, pada keluargaku. Dan hasilnya, pagi ini ku lihat wajahku dengan khimar menutupi kepala ku, sedikit terlihat tembem dan gendut, namun tidak mengurangi kecantikan ku. Malah rasanya sangat senang dan tenang hati dengan ini. Hanya saja, sepertinya aku butuh sedikit diet. Heheheheh XD

       Dengan terurainya khimar ini menutupi kepalaku, dengan terurainya baju-baju yang menutupi kulitku, maka ku sematkan dihatiku bahwa hijab ini adalah pengendali sikap, sifat, dan perasaanku. Hijab ini akan menjadi pengendali terhadap segala sesuatu yang sifatnya duniawi. Tidak ada lagi pikiran negative, tidak ada lagi prasangka buruk, tidak ada lagi menangis untuk hal yang sia-sia. Dengan ini, maka aku adalah manusia yang serendah-rendahnya di mata Allah. Akan ku rendahkan hatiku, Akan ku ikhlaskan hatiku, akan ku bingkai cintaku kepada laki-laki yang memberikanku tempat duduk, lalu ku simpan sampai dia menjadi jodoh yang menemani perjalanan hidupku dan In Shaa Allah Akhirat ku. Jika Allah tidak menjodohkan kami, maka akan ku persembahkan diriku yang sebaik-baiknya untuk lelaki yang akan menjadi imamku. Yang akan membimbingku di dunia dan akhirat. Akan ku cerahkan masa depan ku dengan usaha kerasku, akan  ku usahakan harta melimpah di masa depan ku demi membantu saudara-saudaraku yang membutuhkan, akan ku siapkan diriku untuk berpengaruh dimasa depan demi orang-orang yang dibawah, yang tidak diperhatikan oleh siapapun, yang dipandang enteng oleh orang-orang seperti adik-adikku di jalanan. Akan kusabarkan dan  kutabahkan hatiku dalam setiap cobaan yang menghampiri kehidupanku. Akan ku kuatkan kaki ku, untuk menopang tubuhku dalam keadaan apapun. Akan ku siapkan diriku untuk belajar apapun, dan merantau ke kota bahkan Negara orang. Negara yang bahkan aku pun tidak punya bayangan ada apa disana.   Sekarang memang aku bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Dan aku tidak cukup percaya diri untuk merealisasikan semua kata “Akan” yang sudah kutuliskan. Namun aku percaya kuasa Tuhan. Dalam semalam, gunungpun bisa terbalik jika DIA menghendaki. Lalu, apa lagi yang perlu ku khawatirkan? Aku hanya tinggal melakukannya saja, lalu biarlah Allah yang menentukan hasilnya. Harapanku, semoga aku adalah salah satu orang yang taat dan beriman yang dilindungi dan dicintai Allah. Hijab ini, adalah salah satu bentuk taat ku, yang ku lakukan dengan panggilan hati, dengan pencarian yang panjang, In Shaa Allah bukan hijab instan yang akan terbang seiring kencangnya angin berhembus. Aamiin Allahumma Aamiin.

“Ya Allah, Taat yang ku mau, ketenangan hidup yang ku cari
Rezeki yang ku usahakan, dan orang-orang yang membutuhkan yang ingin aku tolong,
Termasuk bangsa dan negaraku,
Ridhai langkah dan niatku ya Allah. Jikalau mulai hilang niat ini,
dan nantinya ketika harta mulai menyilaukanku, maka sekeras apapun aku berusaha,
jangan kabulkan doa ini.  AAMIIN”

0

Kapten Roket dan Prajurit Langit

Posted by ardianti lestari aris on 12.44
Terima kasih telah menciptakan malam minggu – malam minggu yang berarti untuk saya. Terima kasih tidak menjadikan (lagi) saya salah satu perempuan yang hanya memikirkan diri sendiri. Tuhan, Tidak masalah saya tidak punya waktu untuk diri sendiri demi megurusi kebaikan untuk orang lain. Saya tahu, Engkaulah, Tuhan. Engkaulah yang akan mengurusi segala kebaikan untuk saya. Untuk kami, Para Prajurit Langit.

Hari ini hari mendongeng untuk adik-adik kami di kelas pantai losari yang biasa kami sebut Kelas PASI. Dan salah satu pendongeng hari ini adalah aku. Entahlah aku membawakan dongeng yang baik atau tidak. Namun setiap kali mengingat dongeng ini, aku menangis.

Kapten Roket dan Prajurit Langit

Suatu hari, Tepat di tempat kalian duduk saat ini, ada 9 orang anak yang juga pernah melakukan yang sama. Bedanya, mereka tidak pernah berkelahi, mereka sangat anti sekali berbicara kotor, dan mereka sangat bersemangat belajar. Mereka menyebut diri mereka PRAJURIT LANGIT. Prajurit Langit sangat akrab satu sama lain. Mereka saling melindungi dan tidak pernah bertengkar apalagi saling memukul. Jika ada salah satu prajurit yang membutuhkan pertolongan, mereka semua akan langsung turun tangan. Begitupun Jika ada prajurit yang melakukan kesalahan, maka prajurit tersebut akan dihukum.

Prajurit Langit dipimpin oleh seorang Kapten bernama Kapten Roket. Iya, Kapten ini lah yang telah membuat semua prajurit langit menjadi solid, menjadi saling menghormati dan melindungi satu sama lain, menjadi punya mimpi dan cita-cita yang tinggi. Kapten Roket mempunyai seorang Prajurit yang sangat dekat dengannya. Prajurit ini adalah satu-satunya prajurit perempuan dalam Prajurit Langit. Namun, Kapten Roket sangat mempercayai prajurit ini.

Pada suatu hari, Kapten Roket merasa sedikit kelelahan dan kemudian beristirahat di bawah pohon rindang disebuah taman bunga yang sangat indah. Angin sepoi-sepoi seakan ikut membantunya beristirahat. Lalu datanglah sang prajurit perempuan, ia bersandar di pohon tepat disebelah Kapten Roket bersandar. Lalu bertanya…

“Kapten, Kenapa kapten sangat melarang kami berkelahi? Padahal, kalau kami membela hak kami, bukankah berkelahi akan baik-baik saja?” kata prajurit perempuan.

Tiba-tiba kapten Roket tersenyum lalu memukul sang prajurit dengan keras. Prajurit Perempuan kaget.

“Kenapa Kapten memukulku?” Katanya.

“Kau boleh balas memukulku, lalu kita akan berkelahi. Apakah Sakit?” Kata Kapten Roket.

“Tentu saja sakit, Kapten. Dan aku tidak akan memukul Kapten. Aku……” Sang prajurit perempuan tidak melanjutkan.

“Kalau kau memukulku, maka aku pun akan merasa sakit. Lalu aku akan marah, lalu memukulmu balik, lalu kau pun marah dan memukuliku lagi, Tidak aka nada habisnya. Aku hanya tidak ingin Prajuritku merasakan rasa sakit yang tidak perlu.” Kata Kapten Roket yang diangguki oleh sang Prajurit Perempuan.

Kemudian,

“Lalu Kenapa kamu melarang kami menyumpah dan berbicara kotor?” Tanya Prajurit Perempuan.

TIba-tiba wajah Kapten Roket berbalik menatap wajah sang Prajurit sambil mengatakan …

“Kamu Bodoh, SUNDALA”

Sang Prajurit Kaget lagi, kali ini ia ingin menangis. Namun Kapten Roket tertawa sambil meminta maaf.

“Maafkan aku. Bagaimana Perasaanmu? Jangan menangis. Hahahahaha”

“Aku sangat sedih dan kaget, Kapten.” Jawab sang Prajurit.

“Itulah Prajurit. Jangan pernah menyumpahi atau berkata buruk pada orang. Karena perkataan buruk juga menyakitkan. Bukan Badan. Tapi Hati. Dan itu lebih parah. Selain itu, dibandingkan menyumpahi orang yang buruk, bukankah lebih baik jika menyumpahi orang dengan kebaikan? Kata sebagian dari doa.” Jelas Kapten Roket Tersenyum.

Tibalah malam hari datang. Kapten roket dan Prajurit Perempuan telah berlindung di Kastil tempat mereka biasa beristirahat. Bersama dengan ke-6 prajurit lainnya. Cuaca sedang tidak bersahabat, Hujan deras dan Petir yang sangat mengerikan menyambar-nyambar diluar. Kegelapan yang menyelimuti seakan melengkapi. Lalu tiba-tiba dari arah dapur seorang prajurit berteriak.

“KAPTEEN, FAHRI HILAAANG……!!”

Fahri adalah salah satu Prajurit Langit. Kapten Berdiri dan memerintahkan semua Prajurit lain mencari Fahri di setiap sudut ruangan sementara Ia memanggil Prajurit Wanita untuk mencari diluar. Kapten Roket dan Prajurit Perempuan  menembus hujan deras dan petir demi mencari Fahri. Mereka berkali-kai meneriakkan nama Fahri. Lalu tiba-tiba, sebuah suara terdengar. Memanggil Kapten Roket dari kejauhan. Itu FAHRI, tergeletak lemas di tanah. Dia tersambar petir.

Kapten Roket berlari menghampiri lalu…

“Fahri, bertahanlah. Aku akan membawa mu ke dokter.” Kata Kapten Roket. Sang Prajurit Perempuan telah menangis sangat keras.

“Tidak Kapten. Tidak ada yang bisa dilakukan.” Kata Fahri. Kapten mulai menangis. Merasa bersalah karena tidak mampu menjaga Fahri.

“Kapten, Tolong sampaikan pada ibuku, Aku menyayanginya. Dan Maafkan aku, karena aku belum menyelesaikan sekolah ku.”

“Tidak Fahri, kau akan baik-baik saja.” Kata Prajurit Wanita.

“Aku sangat ingin menyelesaikan sekolahku dengan baik dan membuat ibuku bangga” Kata Fahri.

Pagi itu, sangat dingin. Bekas hujan semalam. Dengan Embun kabut yang lumayan menyelimuti. Hari itu, Fahri pergi. Kembali ke Sang Pencipta.  Lalu seiring waktu satu per satu Prajurit Langit mulai pergi meninggalkan Kapten Roket. Mencari mimpi dan jalan mereka sendiri. Sekarang, yang tersisa hanyalah Kapten Roket dan Prajurit Wanita. Dan mereka mencari pasukan langit berikutnya yang siap mengemban tanggung jawab yang besar. .”

Cerita ini untuk Almarhum kak Fahri, yang menderita penyakit leukemia stadium akhir. Yang meninggal kurang lebih setahun yang lalu. Yang meninggal padahal sedang menggarap skripsi. Yang belum sempat menyelesaikan kuliahnya karena Allah SWT berkehendak lain. Aku tidak begitu mengenalnya, Aku hanya bertemu sekali dengannya. Tapi dari pertemuan itu, aku tahu Beliau orang yang sangat KUAT.


Untuk Kapten Roket yang telah membantuku banyak hal. ARINI LESTARI ARIS. Ayo, semangat. Kita memang pongorok saat berdua, namun ini benar-benar luar biasa bisa berbagi komunitas, mendirikan komunitas yang luar biasa dengan pemikiran- pemikiran biasa yang mampu terealisasi. Terima kasih Banyak sudah menjadi kapten Roket yang hebat untuk Prajurit Wanita, mengajarkan banyak hal, dan melakukan banyak hal gila. Yah, Prajurit Wanita yang bernama Ardianti Lestari Aris.

Untuk kakak-kakak volunteer, Selamat Bergabung dalam Pasukan Langit. Kami sangat berterima kasih setulusnya terima kasih. J

0

Tuhan, Jadikan Aku Apa Saja Selama Bisa Menolong Mereka

Posted by ardianti lestari aris on 10.09

Pernahkah melihat sebuah fenomena kemudian membuat kalian berfikir dan merasakannya melalui hati? Tuhan, terima kasih. Menciptakan aku sebagai manusia. Mempunyai hati yang tidak hanya berfungsi sebagai organ penting di dalam tubuhku, tapi juga memberiku ‘RASA’ , membuatku merasa lebih manusia. Terimakasih, Tuhan. Memberiku otak, yang menggerakkan badanku, memberiku stimulus untuk memikirkan solusi atas suatu masalah, membuatku merasa lebih manusia.

Pagi ini, dengan semangat yang luar biasa, dan dengan perut kelaparan, aku dan kakak perempuanku Arini pergi ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Seumur hidupku, tidak pernah sebelumnya aku berfikir bahwa aku akan pergi ke tempat seperti itu. Tapi pagi ini, aku melakukannya. Dan ini adalah TPA kota Makassar, jadi jangan membayangkan bahwa tempat ini sempit dan hanya segunung sampah saja yang ada di sana. Tidak, kawan. Sampah dengan bau anyir yang menyengat tidak hanya segunung, tapi bergunung-gunung.

Misi yang kami bawa ke tempat ini adalah mencari dua orang anak yang sebelumnya kami lihat dari foto yang diposting oleh salah seorang kawan di facebook. Dua anak yang berasal dari tempat ini. Tempat Pembuangan Akhir. Dari informasi yang kami dapat, bahwa anak tersebut ingin sekolah. Jadi, kami menyempatkan waktu untuk mencari mereka dengan tujuan mewawancara dan membawa mereka kembali ke sekolah. Karena, tempat yang paling menyenangkan untuk anak kecil adalah SEKOLAH.

Pertama kali aku sampai ke tempat itu, pemandangan dari kota besar yang ramai berubah menjadi bergunung-gunung tinggi sampah. Sepanjang mata memandang hanyalah Sampah. Dan tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia di tempat itu. Lalu, kami mulai bertanya-tanya ke warga sekitar TPA mengenai dua anak tersebut. Sembari berdoa dalam hati, Tuhan, Jangan. Jangan ke dalam TPA. Bukan karena aku tidak ingin masuk, tapi rasanya aku tidak siap dan tidak akan tega mendengar bahwa ada kehidupan di sana. Tempat yang menurutku sangat mengerikan untuk sebuah kehidupan. Bahkan untuk orang dewasa sekalipun.

Namun, bagaimanapun, petunjuk tetap mengarah ke dalam TPA. Ke Tumpukan sampah yang menggunung. Awalnya ku piker tidak mungkin ada orang di sana. Namun, kami tetap masuk demi memastikan. Bau sengatan yang luar biasa mulai menyapa hidung kami. Angin bercampur debu yang benar-benar mengganggu pernapasan juga tidak mau kalah menyapa. Panas Terik matahari ikut melengkapi dan membakar kepala kami.

“Kita belok kanan atau kiri?” Kata Arini. Yah, pembelokan yang kami pilih itu yang akan mengantar kami ke balik gunung sampah.

“Kanan” Kataku. Dengan ditemani satu orang volunteer laki-laki SSC Makassar, kami melalui lorong kecil itu dan menaiki gunung sampah yang tinggi. Tanah becek, Bau Busuk, Angin berdebu, lalu ….

Tuhan, Banyak orang disana. Dengan tongkat besi mengais tanah. Dengan karung besar dan pakaian yang lusuh dan kotor. Bergerumul bersama sapi-sapi yang memakan sampah. Tuhan, Mereka manusia. Hatiku tersentak, rasanya ingin menangis. Seumur hidupku, aku tidak pernah membayangkan bahwa akan seperti ini melihat mereka secara langsung. Aku tahu, bahwa mereka ada. Tapi, melihat mereka secara langsung….. Hati ini, benar-benar tersentak, pikiran ini kacau. Mengingat bahwa aku bukanlah siapa-siapa. Aku tidak punya kekuatan apa-apa. Dan aku tidak dapat melakukan  apa-apa untuk menolong. Aku, Aku ingin menangis. Aku, Aku ingin menjadi orang yang kaya raya, Tuhan.

Dalam beberapa langkah, kami melihat seorang anak yang kira-kira berumur 10-12 tahun. Kami mendekati dan menanyakan apakah dia mengenal dua anak yang di foto. Dan dia mengenalnya. Setelah itu, aku iseng bertanya :
“Adek, sekolah dimana?”

“Tidak sekolah kak. Semua anak yang ada di sini tidak ada yang sekolah”

“Mau sekolah tidak?”

Ada beberapa detik lamanya anak itu terdiam, sambil salah tingkah memegang sapi yang sedari tadi mendengar pembicaraan kami. Lalu sambil tersenyum miris, dia berkata …

“Tidak.”

Bukan itu yang sebenarnya. Dia berbohong. Kalau saja dia benar-benar tidak ingin, dia tidak akan butuh waktu untuk berpikir. Dan dia akan langsung menjawab pertanyaan tepat setelah aku bertanya. Tapi dia berfikir, Tuhan. Bahkan untuk menyatakan “ingin bersekolah” saja mereka tidak berani. Padahal hanya sekolah. Hal yang sebagian besar disia-siakan oleh anak seusianya yang sedang bersekolah. Tapi, bagi anak itu, Mimpi bersekolah pun dia tidak berani. Mimpi untuk hanya bersekolah, Tuhan.

Aku tidak tahan lagi. Dan aku tidak melanjutkan pertanyaanku. Sepanjang jalan pulang tidak pernah ku lupakan anak itu. Raut wajahnya ketika menjawab pertanyaanku. Tingkah lakunya ketika memikirkan pertanyaanku. Dan penyesalan kembali timbul di hatiku, atas kelakuan buruk, atas ketidaksyukuran, atas pemikiran negative yang pernah aku lakukan. Dan malam ini, atas akumulasi perasaan hari ini, air mata pun mengalir seiring tulisan ini ku tuliskan


Tuhan, Maafkan aku. Jadikan aku apa saja di masa depan, Tuhan. Apa saja, selama aku dapat melakukan sesuatu untuk menolong mereka, saudara-saudaraku yang kurang beruntung.
TPA Antang Makassar


0

Dan Here We Are....

Posted by ardianti lestari aris on 10.06

Dan Inilah Kami : 
Ms. Dian (Teacher) : 21 years old woman yang lebih memilih dipanggil kak daripada Ma'am. Yang selalu dibully oleh anak-anak KET3 B. Murah senyum, pinter, bersahaja (bersahaja apa yah?), Tingkah laku kekanakan tapi berpikir dewasa. Suka Bruno Mars Sejak 1 Bulan yang lalu, Dan sangat ingin menjadi Ambassador.


Ghina (3rd SHS) : Cewek pertama yang menyelamatkan kehidupan perkelasan Ms.Dian. Prilaku Dewasa, Cantik, dan Pintar. Pandai berorganisasi, tapi jarang masuk kelas dan datang ekstra class, sedikit serius, dan sangat cocok menjadi kak ros di kelas kami.

Fredly (3rd SHS) : Musuh bebuyutan Ms.Dian. Sedikit pemalu, banyak durhaka, tipe kakak yang baik, selalu menjadi key person di groupnya karena pintar, cerewet dan selalu berbahasa indonesia di kelas. Hobbynya angkat kaki di kursi.

Edo (3rd SHS) : Berbadan besar tapi berhati hello kitty. Tidak bisa bilang R dan S, Suka main hp di kelas, moodnya datang-datangan, diam, tipe kakak yang baik, selalu bersemangat mendapat smart, tipe pendengar yg baik.

Dwipa (2nd JHS) : Pinter, semangatnya selalu membara untuk mendapatkan smart, namun jangan pertemukan dia dengan rizky, karena akan berakhir gosip. Key person di groupx, karena itu dia tidak akan pernah satu group dengan fredly.

Agung (3rd JHS) : Cool. Jarang ngomong. Tipe cowok idaman cewek-cewek (sayang masih SMP). Hitam manis, jarang senyum, dan sangat cepat dalam mengerjakan tugas writing.

Vigo (2nd JHS) : Sebenarnya pinter, tapi susah mengeluarkannya. Anak yang paling sering membawa mainan ke kelas. Hobby main UNO tapi seri ng kalah. Selalu ingin memdapat smart.

Efraim (2nd JHS) : Nakal, gak bisa duduk diam, suka ngomong bikini bottom dan mengartikannya satu-satu. Semangat berapi-api khususnya mengenai smart. Paling susah dibilangin. Selalu ingin di traktir, sabar serta lucu dan tidak menggemaskan.

Brama (2nd JHS) : Snail boy. Malas gerak. Hobby makan dan main uno. Sejenis dengan Vigo masalah mainan. Paling sering nempelin Ms.Dian. Dan Tipe adik yang manja namun rajin datang ekstra class. Bagusss!!

Ifan (1st JHS) : The Cutest boy in class. Paling Sopan. Satu-satunya anak yg cium tangan tiap kelas selesai. Rajin sholat. Polos, logatnya aneh. Paling sering bertanya, dan tipe cowok idaman cewek-cewek masa depan. Hahahahah

Mita (1st SHS) : New comer, yang masih pendiam. Jarang ngomong mungkin karena merasa terintimidasi, tapi pintar dan rajin.

Ilmi (1st JHS) : New comer yang pintar, gak pernah bahasa indonesia, tipe murid kesayangan guru,selalu menyelesaikan semua tugas dengan cepat, dan rajin bertanya.

Alya (1st JHS) : New Comer. Cerewet. Agak manja. Selalu nempelin Ms.Dian. Selalu berbahasa inggris, pinter. Dan selalu bertengkar dengan fredly, apalagi Edo.

0

Dan Sepertinya, Aku akan Menjadi Guru Lebih Lama....

Posted by ardianti lestari aris on 09.20
Hari ini menyenangkan. Yah, tepatnya malam ini. Dulu, ketika pertama kali aku masuk ke kelas itu, jantung ku sempat berdebar. Tanganku sempat gemetaran. Bagaimana tidak? Semua siswa di kelas itu adalah laki-laki. Iya, walaupun aku tahu bahwa mereka hanyalah anak SMP dan SMA. Tapi jangan salah, aku tahu betul seperti apa itu kenakalan remaja. Anak-anak SMP yang mem-bully gurunya. Menempelkan lem di kursi guru. Anak-anak SMA yang membangkang, kasar dan tidak menghormati orang yang lebih tua). Bayangan-bayangan bully itu yang terbayang dikepalaku sejak aku ditugaskan mengajar kelas itu. Malam sebelum hari pertama kelas malah aku tidak bisa tidur.  Lalu dengan bantuan  pertanyaan TTS yang mengatakan bahwa Sifat :  Menghadapi segala tantangan, dengan 6 kotak dimulai dengan huruf B. Sambil ku tuliskan kata BERANI akupun meneguhkan hati, bahwa Yes. I am ready for all challange.


Dan hari itu tiba. Hari pertama mengajar di kelas itu. Kelas yang hanya seorang guru laki-laki yang berani memasukinya. Dan aku, yang tidak berdosa ini (hahahah) akhirnya harus menerima takdirku di kelas itu. *ala-alasinetron*.

Perlahan tarikan nafas ku tidak teratur, jantungku rasanya ingin loncat keluar, tangan ku basah dan gemetaran. Sumpah, ini  kali pertamanya aku merasa seperti ini. Sampai di depan kelas, ku lihat wajah-wajah mereka dan jujur saja, aku merasa ingin mengundurkan diri. Terlebih lagi, aku melihat ada 2 anak SMA yang berbadan besar, dengan wajah tidak bersahabat. Tapi tidak, aku bukan orang yang pantang menyerah, kawan.



"Hello guys, start from today we are going to be together for 1 month" kataku sambil tersenyum manis semanis manisnya. Dan jawaban mereka adalah.....
"krik...krik...krik..." alias tidak ada jawaban. 
"Where is Sir X?" salah satu anak bertanya.

You know what? Salah satu pertanyaan yang sangat dibenci oleh guru pengganti adalah "Mana guru sebelumnya?" karena itu pertanda bahwa siswa itu belum MOVE ON. And I got that question. Dan akhirnya penjelasan berlangsung dengan Bla..Bla...Bla.... Kelas yang datar dengan siswa yang tidak bersemangat.

Hari berikutnya, mereka membawa finger board dan memainkannya di kelas tanpa memperhatikan sedikitpun penjelasanku. Hari berikutnya, mereka sudah mulai bisa tertawa karena games yang ku berikan di dalam kelas. Itupun setelah aku berpikr keras kira-kira apa yang akan membuat mereka tertarik. Hari berikutnya kami sudah saling offer jokes. Yah, karena memang dasarnya aku orang yang lucu dan menggemaskan, apa boleh buat. *tolongtahanmuntahanda*. Namun hari berikutnya, Lagi, mereka membawa mainan ajaib lainnya ke dalam kelas. Sebuah jarum panjang yang dimasukkan kedalam pipet kemudian ditiup. Aku menyebutnya *pipet berjarum*. Dan pemirsa, saudara-saudara seibu sebapak sebangsa dan setanah air, jarum itu nancep ke papan tulis saat dua orang siswa meniupnya. Dan saat itu, tidak akan pernah nama mereka ku lupakan. Vigo dan Brama.


Tepat setelah kejadian itu, aku menyerah. Aku merajuk ke Teacher Coordinator untuk menggantiku menjadi guru dikelas itu. Alasannya sederhana. "Mereka mem-bully ku. Dan aku tidak dapat melakukan apa-apa. Mereka merusak properti kelas ku, dan aku tidak dapat melakukan apa-apa. Aku guru yang buruk."

Padahal, alasan sebenarnya adalah aku hanya ingin mereka sedikit merindukanku. 
TC ku hanya menyuruhku bersabar sampai bulan depan, dan selama kelas, ada banyak hal yang terjadi, yang pasti dikelasku, aku tidak membiarkan mereka berbicara kotor, dan mengajarkan untuk menghormati orang lain.


Akhirnya, Bulan berikutnya, aku dibebastugaskan dari kelas itu. Lega? Sedikit. Tapj kemudian, karena sesuatu hal, aku merasa sangat kecewa pada mereka. Aku membawa siswa-siswa ku yg lain untuk menjadi guru di kelas mereka. Tapi mereka sama sekali tidak menghormati kami. Berbicara kotor didepan kami. Tidak mendengarkan kami. Dan mengejek kami. Tahukah kalian,  pada saat itu mata 2 orang siswiku berkaca-kaca hendak menangis. Dan Juga terjadi padaku. Perasaan menyesal dan bersalah telah membawa siswa-siswaku yang lain untuk masuk ke kelas mereka membuatku merasa aku tidak akan pernah mau mengajar mereka lagi. Dan pada saat yang sama, coklat yang diberikan oleh salah seorang dari mereka tidak ingin aku makan.


Namun, situasi yang terjadi berbeda. Aku harus mengajar mereka lagi. Mau tidak mau. Karena penugasan kembali padaku. Awalnya rasanya malas dan enggan. Syukurlah masuk seorang siswa perempuan. Dan syukurlah Si the one and only itu tahan dengan mereka. Kemudian hari berlalu, dan aku berubah pikiran. Mereka LUAR BIASA!

Mereka mungkin Banna' (nakal) namun kelas itu adalah kelas terbaik yang pernaa aku ajar. Mereka mengerti persahabatan itu seperti apa. Bahkan tidak jarang yang SMP duduk di pangkuan yang SMA. Setiap seorang teman datang mereka selalu bersorak gembira. Ketika ada yang berhenti dan tidak melanjutkan level. Mereka tetap mengingat. Ketika ada yang berhenti lalu kembali lagi, mereka senang. Mereka bahkan mungkin menunggu yang sudah berhenti untuk kembali masuk kelas lagi. Mereka HEBAT! Mereka selalu berbahasa indonesia di kelas. Namun jangan salah, mereka hanya tidak mau berbahasa inggris. Entahlah kenapa, hanya mereka  dan Tuhan yang tahu.


Sekarang kami punya 4 perempuan di dalam kelas. Dengan satu adik kecil yang super cerewet dan selalu bertengkar dengan kakak paling besar di kelas. Lucu melihat mereka bertengkar.  Dan malam ini, kami pergi makan bersama. Mereka mengumpulkan uang untuk mentraktirku. Wah..... can i cry a river? Does it mean that they love me? Mereka yang selalu menakutiku dengan memadamkan semua lampu? Yang mengancamku dengan Pipet Berjarum? Yang mengejek siswaku yang lain? Yang tidak memperhatikan penjelasanku? waaaahhhhh..... sepertinya susuk ku berhasil Hahahahahaha.....

Ketika mengingat kembali mimpi-mimpi yang ingin ku raih.. Yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan guru, rasanya aku akan merindukan ini. Sampai mimpi itu teraih, sepertinya aku akan menjadi guru lebih lama dari dugaanku. Selamat Tidur.

0

For My Sister and Save Street Child Makassar, Thank You

Posted by ardianti lestari aris on 09.13

Menjadi hidup adalah sesuatu yang menyenangkan. Beberapa mungkin tidak setuju, tapi bagiku, menjadi hidup adalah sesuatu yang menyenangkan. Jangan bilang bahwa aku adalah manusia tanpa masalah. Dan jangan bilang bahwa kehidupanku dan masalahku tidaklah sebesar yang kalian hadapi. Menjadi hidup memang selalu menyenangkan bagiku. Karena dengan menjadi hiduplah aku bisa merasakan semuanya. Bukankah begitu?? Jadi jangan bodoh kalian, yang hanya karena putus dari pacar, dikhianati,  atau kehilangan seseorang yang kalian sayang lantas membuat kalian membenci hidup. Jangan kawan, hidup lebih berharga dari semua itu. Iya, hidup ku, hidup kalian.

Jangan katakan bahwa aku hanya pandai bicara. Dan tidak pernah merasakan hal buruk. Aku pernah merasakan ingin mati. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Aku telah ketinggalan banyak hal dibanding teman-temanku. Tapi kemudian aku sadar, bahwa SELAMA AKU BELUM MENYERAH, TIDAK ADA YANG AKAN BERAKHIR.

Sedikit demi sedikit aku bangun. Sedikit demi sedikit Tuhan berbisik padaku, iya, melalui hatiku, lalu aku bangun. Dengan bantuan Arini, kakak perempuanku, aku berdikari. Dan akhirnya, suaraku lantang menentang kesalahan itu.

Hingga suatu hari Arin mengajakku bergabung dengan Save Street Child Makassar. Mendirikan sebuah komunitas sosial. Dan aku setuju. Sekarang, komunitas itu benar-benar membantuku dan mengajariku banyak hal tentang kehidupan. Sekarang, ketika semangatku melemah, ketika aku ingin menyerah, ketika aku ingin menangis, maka pikiranku akan terbawa pada anak-anak kecil , adik-adik kami yang tidak seberuntung aku namun masih bisa tertawa. Adik-adik kami yang luar biasa berjuang di jalanan untuk kehidupan yang lebih baik. Melawan sorot mata orang-orang yang kadang jengkel karena menganggap mereka sebagai pengganggu. Adik-adik kami yang kadang hanya karena sebuah tas seharga 45 ribu rupiah mereka memelas, berkelahi. Adik-adik kami yang tidak pernah kehabisan senyum ketika kami datang berkunjung.
Adik-adik yang kami sayangi.

Lalu, tiba-tiba timbul rasa malu dalam hatiku. Apa-apaan ini? Menyerah? Putus asa? Lemah? Menangis? Bukankah aku begitu beruntung berada di keluarga yg berkecukupan. Bukankah hidupku beruntung karena aku mengenyam pendidikan yang baik? Iya, Mereka, adik-adikku adalah penguatku. Mereka yang membesarkan kembali harapanku, membesarkan kembali mimpi-mimpiku. Memberi kan charger yang tidak pernah habis untuk semangatku. Semangat kita, Arin. :)

Kami tidak pernah berusaha menjadi Baik, atau Sok Baik. Kami, hanya belajar. Belajar tentang kehidupan yang mungkin KAMU belum dapatkan dan tidak kamu dapatkan di bangku Pendidikan mu yang tinggi itu. Kami tidak berusaha menjadi baik. Kami hanya mengHIDUPkan diri kami.

Karena, selama kita belum menyerah, tidak ada yang akan berakhir, kawan.


0

A.K.U

Posted by ardianti lestari aris on 09.56
AKU, kata yang ketika diucapkan rasanya begitu egois. Namun tidak akan ada MEREKA, KAMI, KAMU, dan DIA, jika tidak ada AKU. Hanya, kata sederhana itu rasanya berisi makna yang sangat membebani. Siapa AKU? Mau jadi apa AKU? Bagaimana masa depan AKU? Apa AKU sudah melakukan hal yang benar? Atau malah melakukan hal yang salah tapi AKU anggap benar? Memusingkan, kan?

Lalu, seiring berjalannya waktu AKU menemukan bahwa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu tidaklah perlu sekaligus selesai. Perlahan, merasakan satu demi satu pengalaman yang kemudian menjawabnya, menjadi bagian dari KAMI, bagian dari MEREKA, lalu mengambil keputusan.

AKU menepis jauh-jauh pertanyaan-pertanyaan menjebak itu, yang AKU rasa hanyalah pertanyaan yang menghalangi. Banyak cibiran “Sok Baik” , “Halah, paling Cuma cari perhatian”. Benar kawan, Jangan pernah mencoba menjadi BAIK. Karena baik adalah sesuatu yang relative jaman sekarang.

Dengarlah wahai kamu yang mencibir, AKU tidak pernah berusaha menjadi orang yang baik. Karena AKU sadar betul akan apa itu defenisi baik jaman sekarang, iya, mereka ambigu, relative, tergantung dari sudut pandang apa MEREKA dan KAMU melihat. Lalu AKU mencoba jadi apa? Dengarlah, AKU tidak sedang mencoba menjadi apa-apa. AKU hanya ingin BAHAGIA. AKU melakukan sesuatu berdasarkan apa yang dipikirkan AKU. AKU adalah AKU. Prinsipku, Hidupku. Benar, salah, apa yang KALIAN ketahui tentang semua itu? Begitupun AKU, AKU tidak tahu apa-apa. Yang AKU tahu, AKU bahagia melihat anak kecil tersenyum. AKU bahagia berbagi ilmu. AKU bahagia dengan tantangan hidup yang terkadang malah menjerumuskan. AKU hanya ingin lulus dengan nilai A+ untuk semua cobaan hidup yang datang.

AKU adalah apa yang AKU pikirkan tentang AKU.

AKU adalah apa yang AKU rasakan tentang AKU.

Jadi KAMU dan MEREKA, kalau KAMU dan MEREKA tidak bisa merasakan dan memikirkan tentang diri kalian sendiri, Jangan pernah berspekulasi tentang apa yang dirasakan AKU, tentang apa yang dipikirkan AKU.

Karena, KALIAN bukanlah AKU.

Sama seperti AKU bukanlah KALIAN.

0

Angin dan Malam Berjodoh. Selalu Berjodoh.

Posted by ardianti lestari aris on 10.00
Add caption
Angin tiba-tiba datang membawa kabar kepada malam yang sedari tadi menunggunya. Angin ini, yang selalu menentramkan hari-hari malam. Yang membuat malam menjadi sejuk dan membuat malam menjadi bagian waktu yang ditunggu orang-orang. Tapi kali ini, angin sedikit berbeda. Kali ini, angin tidak ingin tinggal lama bersama malam. Angin ingin segera pergi, mencari bagian waktu yang lain.
Ini bukan karena malam sudah membosankan bagi angin, tapi angin sadar bahwa jika angin terus disini, maka dia tidak akan mampu menunjukkan dirinya kepada siang, kepada pagi, sementara, siang dan pagi juga membutuhkan angin. Dan jika angin terus berhembus pada malam, maka tidak akan ada perkembangan pada angin, karena angin telah mengetahui betul, seberapa kecepatan yang harus dikeluarkan untuk malam agar tetap sejuk dan dinanti-nanti oleh orang banyak.
Akhirnya, angin yang sudah bertahun-tahun berhembus pada malam pun pergi. Malam itu, angin tidak lagi berada di sekitar.Bukan, bukan angin membenci malam, angin hanya ingin keluar dari zona nyaman untuk kebaikan keduanya. Angin hanya butuh sedikit tantangan sebelum dia benar-benar menyerah akan keadaan. Angin bukan tipe pemalas yang hanya puas dengan apa yang ada. Angin ceria, suka tantangan, dan belajar. Dan angin ingin malam tidak juga bergantung padanya. Angin berharap, sekalipun tidak ada angin, malam akan tetap sejuk, malam akan tetap dingin dengan bantuan awan, malam akan tetap indah dengan bantuan bulan dan bintang. Malam hanya perlu sedikit berusaha.
Angin ingin kembali, namun suatu saat. Ketika malam tidak mendung, ketika malam bertabur bintang dan diterangi bulan purnama yang indah, ketika malam mulai tidak begitu gelap, ketika malam mempunyai banyak lampu yang meneranginya. Angin akan kembali, menemani malam seperti sebelumnya. Meskipun saat itu mungkin angin tidak lagi penting karena malam telah menemukan jutaan lampu, karena malam telah menemukan bintang dan bulan, yang lebih indah dari angin, maka angin hanya akan tetap membantu malam, karena malam tanpa angin, bukanlah malam yang sempurna. Angin tanpa malam, bukanlah angin yang menyejukkan.

Kepada malam, angin berhembus bukan mencari malam yang lain. Hanya ada satu malam di dunia ini. Angin berhembus untuk menerima tantangan siang dan pagi. Untuk lebih mahir mengatur kecepatan di kondisi yang berbeda. Jadi malam, bersabarlah. Kita berjodoh. Angin dan malam akan selalu berjodoh.

0

When Teacher Meets Parents....

Posted by ardianti lestari aris on 09.06
Ternyata kelabilan tidak hanya melanda ABG dan sejenisnya, gue juga. Yang pasti gue bukan ABG dan sejenisnya, tapi labil ini rasanya susah banget keluar. Bingung kenapa gue bilang gue labil?? Iya, gue balik lagi, nulis dengan ke-gue-elo-an. Dammnn..!!!

Simple saja lah, kalau gue lagi happy, maka tulisan gue akan lebih absurd dari ketika gue galau. Hari ini sebenarnya tidak ada yang special, sama seperti  gue  menulis blog dan nggak ada satupun orang yang baca. #gangtungdiridipohontoge.
Tapi, bagaimana pun juga gue tetap ingin menulis kejadian hari ini, karena menurut penulis yang nggak boleh disebut namanya “Tidak ada hari yang biasa, semua tergantung bagaimana kamu menginterpretasikannya” katanya sambil pegang tongkat motif ular dan batuk-batuk dengan seluruh badan buluan dan berwarna hijau (ini penulis apa genderuwo). Yup, menurut gue sih benar banget. Walaupun gue rada-rada nggak ngerti kata terakhirnya.

Okelah, kita mulai aja, pertama-tama ubah scene di kepala anda dengan latar kantor yang lumayan sempit dengan tulisan brand ternama salah satu tempat belajar bahasa inggris, dimana ada beberapa orang yang sedang berlalu lalang entah mengurus apa, ada 2 anak yang memakai seragam sekolah yang sama, dan ada seorang cewek yang pegang bantal spongebob dengan ketawa aneh yang menggelegar sampai kedengaran 1 kampung (eh,,itu gue yah??) .

Seperti biasa, gue masih setia nangkring di kantor nungguin siswa gue yang mau extra class. Kebenaran, hari ini ada parents gathering dimana orang tua-orang tua siswa datang untuk mengambil raport anaknya. Satu jam pertama, gue hadapin orang tua pertama yang rasanya pasrah-pasrah aja dengan anaknya. Jam kedua, ada lagi, dan ini masih normal. Jam ketiga, datanglah bapak ini yang mengubah pandangan gue tentang parents gathering yang menyenangkan karena melihat orang tua-orang tua membayar yang artinya pundi-pundi harta gue bertambah menjadi horror. Sebut saja bapak ini Pak X.

Dengan muka serius, Pak X nungguin gue di front office. Awalnya feeling gue baik, karena anaknya Pak X kece dan pinter, jadi nggak ada masalah ya lah. Maka keluarlah gue dengan senandung ‘anak gembala’ gue.
“Selamat sore pak” sapa gue ramah
"Iya sore mbak." nggak ada senyum, nggak ada badai, jawabannya Pak X dingiiiin banget.
Gue senyum lagi "Ini raportnya X pak, seperti bapak liat ini, bla bla bla.....bla bla bla...."  Gue menjelaskan dengan baik apa arti setiap angka yang tertera di raport.
"Hm....begini mbak.." dan hal horor ini pun terjadi. "X itu anaknya agak kurang termotivasi untuk belajar. Kalo boleh saya minta tolong, bisa X dikasi sentuhan fisik mbak, biar dia semangat dan merasa terdorong untuk belajar."
Gue Shock....

Batman Shock...
Patrick dan Spongebob Shock ...
Diego dan dora menikah...
Ehh... apa-apaaan ini?? kalian sepupuan, masa menikah..?? BATALKAN PERNIKAHAN INI!! *matilampu.

oke, kembali ke topik, otak gue kan belum diupgrade yah. 'sentuhan fisik ' yang dimaksud pak X sama sekali gue nggak ngerti..
"begini mbak, tolong kalo selesai pelajaran atau misalnya sebelum masuk kelas, tolong X dirangkul lah. terus dibisikin kata-kata yang buat dia semangat" lanjut pak X.
Pertama, gue bukan eyang subur yang tiba-tiba bisikin kata motivasi terus tuh anak langsung terhipnotis untuk melakukan apa yang gue suruh. Kalo gue bisa kayak gitu, sekalian aja tuh anak gue suru bawa mobil, beliin rumah, atau bawain duit 10 juta tiap hari buat gue. Kedua, Rangkul?? yang ada kejadiannya bakalan kayak gini.
"Hai X,,, How are you?? How's life??" sambil gue rangkul pundaknya.
Si X......"Heeelppp.... ma'am dian is going crazy"

"oh, iya pak. setiap di kelas juga saya akrab kok sama anak-anak." jelasku dambil berdoa semoga pak X ini cepat  pulang. dan ternyata tuhan belum mengabulkan doa gue.
"Dulu, anak saya itu peringkat 30 di sekolah, setelah saya memberitahu gurunya untuk memberikan sentuhan fisik, sekarang dia sudah peringkat 2 umum." lanjut tuh pak X curhat.
Gue diam, mencoba mengkorelasikan antara sentuhan fisik dan peringkat 2 umum. Rumus archimedes, ini bukan matematika, Simple Past tense, nggak ada hubungannya, Tuhan, saya butuh psikiater.

Akhirnya untuk mempercepat percakapan, gue hanya mengangguk dan meng-iya kan setiap permintaan pak X yang pastinya nggak akan gue lakukan sesuai permintaannya, namun dengan cara yang berbeda.

Sebagai guru, tanggung jawab gue adalah mendidik, bukan joget gangnam style di depan siswa gue. Atau mengajarkan bagaimana ber-harlem shake yang baik. Bukan, karena joget-joget tersebut sudah ketinggalan jaman. Tugasku adalah, bagaimana siswa didik gue mampu bersaing di dunia internasional, menjadi salah satu pelopor joget yang mendunia dan akan kami beri nama wormy dance tralala trilili. *Televisi mendarat di jidat gue.

Guru, yah, sepertinya memelajari remaja bertingkah laku membuat gue merasa lebih muda. Namun melihat mereka bertingkah laku yang tidak semestinya kadang malah membuat gue merasa tua banget. Tapi, apapun itu, menjadi bagian positif dari kehidupan orang lain, sekalipun nantinya akan terlupakan ketika mereka dewasa, adalah hal yang menyenangkan. HIDUP Wormy Dance Tralala Trilili.....!!!

0

SERIUS DIKIT DULU LAH....

Posted by ardianti lestari aris on 01.20
Aku menulis. Di kantor, di rumah, di kampus, di sekolah. Dulu aku selalu menulis, menulis setiap kejadian yang terjadi dalam setiap detik kehidupan ku yang biasa-biasa saja. Di buku, di diary yang juga berbentuk buku, di laptop kakak ku, di tablet, di handphone, di warnet, dan sekarang di laptop yang ku miliki, ku beli sendiri dengan hasil keringatku. Ternyata bekerja tidak begitu sulit. Lebih sulit kuliah rasanya. Hmmm… kenapa hari ini aku menulis dengan subjek aku-kamu, jawabannya 1, karena aku sudah naik satu level dalam kehidupan, sekalipun aku belum menyelesaikan level kehidupan ku yang lain. Yah,, dewasa, aku sepertinya sudah dewasa. Tujuan ku sudah berbeda, semangat ku berbeda, kemampuan menganalisis ku akan masa depan sudah berbeda. Entah lah, berbeda dalam hal yang baik atau tidak, yang aku tau, aku bukan yang dulu lagi.

sumber : deposit photo

Tidak ada alasan, aku hanya ingin menulis, itu saja. Ingin mengulang kembali perasaan-perasaan yang telah lama terlupakan ketika aku menulis hal-hal baik, hal-hal buruk, hal-hal konyol yang pernah terjadi dalam hidupku, sambil menangis, sambil tersenyum, sambil mengkhayal. Aku bahkan tidak peduli apa makna, pesan moral, atau apalah yang ada dalam tulisan ini. Aku tidak peduli, tulisan ini bagus atau tidak, menyentuh atau malah menggelitik, yang aku tau, aku ingin menulis. Merasakan kembali diriku yang dulu. Mengalirkan seluruh pikiranku yang dimulai dengan urat saraf diotakku lalu ditransfer menuju jemariku yang tidak se-lancar dulu menjelajahi keyboard laptop di depan ku. Mungkin karena laptop ku baru, atau mungkin karena aku mulai melupakan letak-letak huruf di keyboard computer.

Karena itu, aku ingin mengingat lagi, merasakan lagi, mengkhayal lagi, tersenyum lagi, menangis lagi, dan kali ini dengan situasi yang berbeda, tapi perasaan yang sama. 


hoW MucH...??

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Copyright © 2009 ..My Blog, My Life.. All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.